Adakalanya, kita boleh kecewa atau merasa kurang sreg dengan sesuatu atau dengan orang-orang di sekitar kita. Tapi hal itu bukan berarti bisa kita jadikan alasan untuk mencelanya. Allah berfirman, "Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela" (QS. Al-Humazah: 10)
Kita semua layak punya idealisme, tetapi ketika itu menyangkut orang lain atau keadaan di luar kita yang tak mungkin memaksakannya maka saat itu kita wajib meluangkan permakluman secukupnya. Orang bijak adalah oraqng yang mampu memahami realitas sekaligus menyikapi sesuai kadar dan kondisinya. Terhadap kebaikan, kelebihan dan prestasi, kita patut memujinya. Terhadap kekurangan dan kegagalan, kita wajib menahan diri dari mencelanya.
Sungguh naif jika setiap kekecawaan diungkapkan dengan celaan. Berikut adalah alasannya:
Pertama, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna kecuali Rabb alam semesta. Setiap makhluk menyandang cela, setiap kondisi akrab dengan kekurangannya. Ya, meski bersifat relatif tentunya. Nah, jika setiap kekurangan itu memancing kita untuk berkomentar miring, betapa banyak energi yang harus kita buang percuma. Orang mulia tak melakukan perkara percuma, namun sibuk dengan hal yang positif bagi sesama.
Selanjutnya yang kedua, bukankan pada diri sendiri juga punya kekurangan, mengapa hanya melihat kekurangan orang lain saja, atau mencela kondisi di sekitarnya? Orang baik-baik adalah orang yang pandai dalam berkaca, bahkan jika perlu mencukupkan diri dengan kekurangan pribadinya dan sibuk untuk memperbaikinya.
Yang ketiga, sungguh, mencela makhluk sama halnya mencela Khaliq. Fakta ini yang jarang difahami, padahal merupakan perkara yang melampaui batas.
Yang keempat, mencela adalah ekspresi negatif yang berakibat negatif pula. Bagi tukang cela, adalah cermin betapa tidak fahamnya si pencela akan kenyataan dan persoalan (yang mestinya butuh solusi, bukan celaan), sekaligus tanda akan kelemahan dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang terkena celaan, langsung maupun tidak langsung, bisa menjadikan rendah diri, patah semangat dan frustasi.
Begitulah, mencela memang pekerjaan mudah dan siapapun bisa melakukannya. Sedangkan menahan diri dari mencela butuh usaha ekstra, dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang mulia yang punya harga diri. Lihatlah Rasulullah, bahkan beliau tak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, "Rasulullah tidak pernah sama sekali mencela makanan, kalau berselera beliau makan, kalau tidak berselera beliau tinggalkan." (Muttafaq 'alaih)
Juga saksikanlah para sahabat, yang selalu bisa mendudukkan orang lain sebagaimana Allah telah mendudukkan mereka. "Sesungguhnya orang yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu,. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat: 13)
Setelah ini, masih adakah yang tega untuk mencela? Wallahu A'lam.
Disadur dari : Majalah Islam Ar- Risalah Hal. 27 Edisi 86/Vol. VIII/No. 2 Rajab - Sya'ban 1429 H/Agustus 2008