Lebih jauh lagi, apa beda shalat Subuh dengan shalat Dhuha? Keduanya dilaksanakan sebanyak 2 rakaat. Dimulai dengan takbiratul ihram, baca al fatihah, ruku', sujud, attahiyat, dan diakhiri dengan salam. Keduanya persis sama. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan niatnya. Kita akan melihat substansi keduanya dengan cara melihat dari sudut pandang yang lebih universal.
Ketika Anda sedang melakukan shalat Dhuha di Indonesia, maka pada saat yang bersamaan kawan kita di Arab Saudi sedang melakukan shalat Subuh. Keduanya melakukan tata cara shalat dan bacaan yang sama persis. Menyembah dan berdzikir kepada Allah yang sama. Mengikhlaskan niat dan ketaatan hanya kepada-Nya.
Pada saat yang sama pula, kawan kita di Afrika sedang shalat Tahajjud. Dan kawan yang lain - seorang astronut - sedang shalat dua rakaat di angkasa luar. Entah apa adanya, karena dia tidak tahu di luar angkasa itu sedang siang ataukah malam. Ia selalu bisa melihat matahari menyinari stasiun angkasanya. Baginya tidak ada malam dan siang. Mau disebut malam, kok mataharinya tetap kelihatan. Mau disebut siang, tapi suasana angksanya selalu dalam keadaan gelap gulita. Kecuali tampak kerlipan bintang di sana-sini. Dan satu 'bintang besar' yang disebut matahari.
Hakikatnya, ada tiga orang hamba sedang melakukan ibadah shalat. Sama-sama 2 rakaat. Satunya wajib, yang lain sunnah. Satunya siang, lainnya malam. Bahkan yang lain lagi tidak bisa menyebut siang atau malam. Maka, hakikat ibadah mereka bagi Allah? Apa beda antara sujud shalat Dhuha, Subuh, dan Tahajjud mereka? Apa pula beda ruku' hamba yang satu dengan yang lainnya? Dan apa beda makna bacaan-bacaan shalat mereka, mulai dari takbiratul ihram, fatihah, sampai salam mereka? Tidak ada yang membedakannya kecuali keikhlasan, ketaatan, dan kekhusyukan mereka dalam menyembah Allah. Itulah substansi dan hakikatnya. Karena itulah Allah mengatakan berkali-kali di dalam Al-Qur'an bahwa inti shalat terletak pada ketiga hal tersebut.
Bahwa bukan sekedar menghadap ke timur atau barat itulah yang disebut kebajikan. Atau, bukan sekedar ritual-ritual dalam tata cara shalat itulah yang menjadi hakikat. Melainkan, makna yang tersimpan di dalamnya dan teraplikasi dalam kehidupannya. Jadi, hakikat shalat tidak dapat berdiri sendiri. Ibadah shalat adalah sebagian dari penerapan ajaran agama Islam secara holistik. Belum dikatakan sempurna Islam seseorang, ketika dia rajin shalat tetapi tidak menolong anak yatim dan orang miskin. Belum sempurna juga Islam seseorang, meski dia selalu shalat tepat waktu, tetapi sering mengingkari janji. Dan belum sempurna juga agama dia, meskipun shalat, kalau dia tergesa-gesa dalam perbuatannya, dan tidak sabar dalam ujian yang diberikan Allah.
Sebagaimana dalam firman Allah bahwa shalat bukan sekedar upacara, melainkan sebuah kekhusyukan untuk berkomunikasi dengan Allah, "Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)."
Maka, kembali kepada hakikat shalat yang kita jalankan, intinya adalah membangun kedekatan kita kepada Allah dalam seluruh ruang dan waktu yang kita miliki. Tak ada bedanya lagi antara shalat wajib dan sunnah, antara siang dan malam, antara negara yang berbeda. Karena seluruh shalat kita memberikan efek yang sama bagi jiwa kita: kedekatan kepada Allah, yang lantas berpengaruh pada perilaku sehari-hari, selalu dalam kebajikan dan manfaat sebesar-besarnya. Rahmatan lil alamiin ...
Disadur dari : Tahajud Siang Hari Dhuhur Malam Hari, Hal. 109, Agus Mustofa, 2005, Surabaya, Padma Press |